Catatan dari Kuala Lumpur (Bagian 3)

Sejauh "Selat" Memisahkan Saudara Serumpun Indonesia-Malaysia...

akurat logo
Hervin Saputra
Selasa, 05 September 2017 17:53 WIB
Share
 
Sejauh
Dua perempuan dalam busana muslim berdiri di dekat etalase toko kain dan perhiasan di Central Market (Pasar Seni), Kuala Lumpur, Agustus silam. (Foto: AKURAT.CO/Sopian).

AKURAT.CO, Beberapa jam sebelum pulang ke Indonesia, saya pergi ke Central Market. Mereka punya nama lain untuk menyebut tempat ini: Pasar Seni.

Pasar Seni tak jauh dari tempat saya menginap. Berjalan kaki cukup lumayan namun tak melelahkan karena saya melintasi pertokoan dan taman-taman.

Ada banyak orang dengan ras seperti India di tepian jalanan, sebagian besar lelaki, mungkin warga Bangladesh muslim. Mereka berbelanja dan sepertinya bersiap untuk Hari Raya Idul Adha. Di tempat lain, tentu saja saya melihat warga keturunan China, dan bule.

Pasar Seni adalah bangunan lama yang di gerbangnya tertera angka “1888”. Saya menduga bahwa angka itu adalah penanda tahun ketika pasar itu dibangun atau diresmikan.

Di dalamnya adalah toko-toko cendera mata. Seperti Malioboro di Jogja tetapi di dalam gedung.

 

Central Market atau Pasar Seni di Kuala Lumpur. Tempat ini menjadi tujuan turis untuk membeli cenderamata dan jajanan khas Malaysia. (Foto: Akurat.co/Hervin Saputra).

Tak banyak yang bisa dibeli di sana. Selain karena keterbatasan uang, karena tak banyak pilihan. Hampir semua kerajinan tangan yang ada di sana bisa ditemui di Jogjakarta.

Saya masuk ke toko makanan kecil. Berusaha mencari-cari jenis makanan khas Malaysia yang tak saya temui di Indonesia. Ada keripik dari talas, keripik singkong, dan jenis makanan yang pernah saya lihat di Bukit Tinggi.

Saya beli juga manisan mangga dan selai serikaya. Seraya saya berbelanja, ibu-ibu berusia 50 tahunan awal yang tampak seperti kepala toko melayani saya sambil bersenandung dengan menyebut “Malaysia… Malaysia.”

Di depan etalase kasirnya, ada plastik yang di antaranya berisi kue sale pisang dan kuping gajah. Saya menyentuhnya dan tiba-tiba saja plastik-plastik yang sudah tersusun itu jatuh.

Karena merasa bersalah, saya berusaha mengembalikan plastik-plastik itu ke tempatnya namun gagal karena terlalu licin. Karena menyulitkan, saya meletakkan telepon genggam – yang selalu saya genggam – di atas meja untuk menggunakan kedua tangan saya membereskan persoalan.

Si Penjual tampaknya tahu bahwa saya kerepotan dan dia membantu saya membereskan plastik-plastik sambil terus bersenandung dan akhirnya berkata, “harus pakai kasih-sayang.”

Saya membayar belanja yang sedikit itu dan ketika berjalan setengah terburu-buru keluar dari Pasar Seni, saya merasa ada yang janggal: telepon genggam tak ada. Bukan telepon genggam saya sebenarnya, tetapi telepon genggam milik perusahaan tempat saya bekerja yang dipinjamkan kepada saya.

Dalam keadaan setengah panik, saya buru-buru kembali ke toko Si Penjual dan ketika melihat saya, seorang perempuan yang duduk di sisi luar belakang kasir berbicara kepada Si Penjual dengan kalimat “datang die..”

Insting saya mengatakan bahwa “die” yang dia maksudkan adalah saya. Dan insting saya benar karena dia langsung mengonfirmasi dengan bertanya kepada saya, “talifun ye?”

Saya mengangguk.

Saya melihat telepon genggam itu ada di rak di belakang kasir dan Si Penjual. Setelah Si Penjual melayani beberapa gadis pembeli, dia mengembalikan telepon genggam itu kepada saya.

“Kamu letak di sini,” katanya sambil menunjuk meja kasirnya, “untung tidak diambil orang.”

Dan saya berkilah seraya terburu-buru, “Makcik ‘nyanyi sih, saya jadi terbuai. Terima kasih Makcik.”  

Pelik Identitas 

Semua pengalaman ini membuat saya berpikir bahwa di Kuala Lumpur, warga setempat bisa mengidentifikasikan dari mana, atau dari negara mana, seseorang berasal.

Lebih dari itu, seorang lelaki yang mengaku berasal dari Afrika Selatan yang kami temui di LRT Masjid Jamek-Bukit Jalil, bisa menebak saya berasal dari Indonesia dan mengatakan seorang teman saya yang juga dari Indonesia, lebih mirip orang Malaysia.

Inilah Kuala Lumpur! Kota yang kosmopolitanismenya sudah terjadi sejak kejayaan Kesultanan Malaka pada abad ke-15 sekaligus menjadi gerbang kolonialisme di kedua negara setelah diduduki Portugis pada 1511. Kota di masa Kesultanan Melayu juga mencakup sebagian pulau Sumatera di mana Kesultanan Demak pernah datang membantu untuk menghalau Portugis.

Kota yang menggunakan nama pahlawan legenda Melayu seperti Hang Tuah, Hang Jebat, dan Hang Lekiu, menjadi nama beberapa jalan utama mereka saat ini – dan Anda bisa menemukan nama yang sama pada jalan-jalan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kota, yang membuat kita tidak segan mengatakan bahwa dengan Malaysia kita adalah “serumpun.”

Sebab ke-kosmo-an itu – Kosmo juga nama salah satu surat kabar arus utama Malaysia yang berada dalam grup partai penguasa, UMNO – di Kuala Lumpur ada orang dengan berbagai ras dari seluruh dunia, berseliweran, dan mudah ditemui.

Harus diakui, Kuala Lumpur adalah kota yang indah, terawat, dan relatif lebih bersih dari Jakarta. Kota ini tak sepadat Jakarta. Macet di Kuala Lumpur, adalah macet yang masuk akal dalam ukuran macet di Jakarta.

Jalur pedagang kaki dibuat sangat nyaman. Anda bisa menemukan kuil, mesjid, vihara, dan gereja, dengan suasana yang hidup. Kami bahkan masuk ke dalam salah satu kuil tertua di Kuala Lumpur, Korrtu Malai Pillayar, saat mereka sedang merayakan perayaan Viyanagar Chathurthi.

Dua gadis India-Malaysia saat beribadah dalam perayaan Viyanagar Chathurthi di Kuil Korrtu Malai Pillayar, Kuala Lumpur, Jumat (25/8). (Foto: Akurat.co/Sopian).

“Selama hatinya bersih, boleh masuk,” kata seorang pedagang balon keturunan India berusia sekitar 40 tahunan akhir saat kami bertanya apakah kami boleh masuk ke dalam kuil itu.

Kami masuk dengan telanjang kaki. “Kasut lepas, macam di masjid,” kata seorang panitia perayaan yang berdiri di pintu masuk. “Di Indonesia ini disebut pura,” kata seorang pendeta saat kami mendekat ke patung Dewa Ganesha.

Tetapi di balik pluralitas itu, saya merasa semacam keanehan dalam kunjungan pertama keluar Indonesia dan ke negeri Melayu ini. Bertemu dengan orang Melayu Malaysia, rasanya seperti dekat, dan mungkin “terpencil.”

Dalam seluruh variasi ras di dunia, Melayu Malaysia dan mayoritas orang Indonesia adalah pecahan terakhir yang tak bisa dipecah lagi. Dalam jalur ras, Indonesia dan Melayu Malaysia adalah saudara terdekat sebagai anggota Malayan Mongoloid.

Indikasi terbesar tampak pada bahasa. Saya cenderung berusaha ber-Bahasa Inggris dalam Bahasa Inggris seadanya kepada warga non-Indonesia manapun yang saya temui di Malaysia. Baik itu kepada Melayu Malaysia, India, China, dan Bangladesh.

Suasana di kawasan kuliner jalanan di Jalan Alor, Kuala Lumpur, menunjukkan ciri kosmopolit Malaysia. (Foto: Akurat.co/Sopian).

Soal bahasa ini menjadi agak rumit karena di Malaysia, ketika saya berbicara Bahasa Melayu, mereka mencampurkannya dengan Bahasa Inggris dan ada kosakata yang sama yang juga digunakan di Indonesia namun dengan makna dan maksud berbeda.

Jika kita di Indonesia mengatakan “berputar” untuk menyebut “mengambil tikungan pada putaran jalan,” maka orang Malaysia menggunakan kata “pusing” untuk maksud yang sama. Sementara itu, kita menggunakan pusing untuk “rasa sakit di kepala.”

Usai mewawancarai peraih senam SEA Games Manila 1991 dan Singapura 1993 yang kini melatih Tim Senam Ritmik Malaysia, Farrah Hani-Imran, saya harus membuka kamus Google untuk mencari tahu apa arti dua kata yang disebutkannya: cabaran dan khidmat.

Saya sama sekali tak tahu apa arti cabaran, dan kamus Google memberitahu artinya adalah “tantangan” dalam Bahasa Indonesia. Namun, saya pernah mendengar khidmat dalam kalimat “dia menyanyi dengan khidmat.” Tetapi di Malaysia, khidmat berarti “pelayanan” sebagaimana dokter melayani pasien. 

Khidmat, ada yang mengatakan diserap dari khazanah Islam yang bisa diartikan sebagai berbagi kepada orang lain, ikhlas, dan patuh pada kebenaran. Dan Malaysia menggunakan kata ini dengan pengertian khidmat yang lebih dekat ke pengertian Islam-nya ketimbang dengan yang digunakan di Indonesia.

Khidmat di Indonesia lebih dekat dengan “menjiwai.” Namun, jika kita memaksa mencari apa pertalian kata khidmat yang digunakan di Malaysia dan di Indonesia, jawabannya bisa bahwa mereka memang sama-sama bermaksud “melayani.”

Pada Malaysia khidmat adalah kerja pelayanan sebagai bhakti kepada orang lain, sementara pada Indonesia khidmat adalah menjiwai sesuatu seperti nyanyian sehingga nyanyian itu terasa seperti melayani orang yang mendengarkannya.

Saudara Serumpun

Tidak pernah mudah menjadi saudara. Dan kita selalu mengenal saudara sebagai orang yang lebih dekat. Bagi saya sebagai orang Indonesia yang berkunjung di Malaysia, saya merasa orang Malaysia lebih mudah mengenali orang Indonesia hanya dengan melihat penampakan saja. Dan sayangnya, tebakan mereka selalu benar.

Sebaliknya, di Jakarta saya sulit mengidentifikasikan orang Malaysia sebelum saya mendengar aksen mereka berbicara. Dan sejujurnya, dalam beberapa hal orang Malaysia menjadikan Indonesia sebagai cermin.

Terutama pada bidang kebudayaan, hiburan, seni, dan dunia pop, mereka tidak segan memuji Indonesia. Seorang sahabat Malaysia, Shahkir, dan warga Indonesia yang telah berada di Malaysia lebih dari sepuluh tahun, Hamim, memuji konser Krisdayanti di Kuala Lumpur sebagai konser yang hebat.

Dan Malaysia berjuang keras untuk membuktikan superioritas mereka pada olahraga, pada SEA Games 2017. Dan mereka menjadi juara umum dengan kemenangan yang, dalam Bahasa Ketua Komite Olimpiade Malaysia, Tan Sri Imran, “sensasional” dengan 145 medali emas dan total 323 medali. Dengan sebuah rekor!

Di malam penutupan di Stadion Nasional Bukit Jalil, 30 Agustus 2017, suasana menjadi semakin aneh ketika seorang fotografer tua yang mengaku berasal dari Filipina menghampiri saya dengan tergesa-gesa.

Dia hanya ingin mengeluh bahwa video yang disiarkan di layar besar yang lengket di dinding stadion tersebut hanya berisi cuplikan atlet Malaysia saja. Dan dia mengkontraskannya dengan slogan SEA Games 2017, “Rising Together”, yang dimaksudkan sebagai kebangkitan bersama negara ASEAN.

It’s too much,” katanya. “I feel like in Malaysian National Games, not SEA Games.” 

Menurutnya, Malaysia seharusnya menampilkan juga juara dari negara lain karena ini adalah SEA Games. Dia mengaku kecewa dan berkata kepada saya: “you don’t do this in Indonesia.”

Berapa saat kemudian, saya berkata pula kepada dia: “next two years SEA Games will be in Philipine, and I hope you don’t do the same.” Dan dia tak memberikan respon.

Sementara itu, jam kerja LRT dari Bukit Jalil diperpanjang hingga pukul dua pagi pada hari itu untuk melayani penonton upacara penutupan. Tak seperti upacara pembukaan, tak banyak sajian pada pertunjukan seremoni selamat berpisah itu. Hanya ada sedikit tarian, marching band Angkatan Tentara Malaysia, dan, bagi sebagian orang Indonesia, Amy Search adalah pengecualian dalam acara yang lebih mirip konser penyanyi pop Malaysia itu.

Suporter Malaysia menjelang seremoni penutupan SEA Games 2017 di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Rabu (30/8). (Foto: Akurat.co/Sopian).

Setelah itu pidato kemerdekaan Malaysia karena pagi dini hari itu adalah hari Kemerdekaan Malaysia yang ke-60, 31 Agustus, oleh Perdana Menteri Najib Razak. Seorang rekan fotografer harus meminta izin naik ke apartemen warga di seberang stadion Bukit Jalil untuk memotret kembang api yang konon bakal menyala pada pukul 00:00 31 Agustus.

Di luar stadion, sebagian pengunjung menahan diri untuk pulang di depan pintu Stasiun Bukit Jalil hanya untuk menunggu kembang api menyala pada tengah malam.

Lewat pukul 12, tak ada apa-apa di langit. Entah pada menit keberapa setelah jam 12, meletuslah sekitar satu atau dua kali letusan. Setelah itu tak ada lagi. Kami beruntung karena foto kembang api itu bisa tertangkap oleh seorang rekan yang telah bersiaga dengan kameranya di atas apartemen.

Selepas itu, rasa-rasanya hampir semua media massa di Indonesia memberitakan bahwa SEA Games 2017 adalah kegagalan. Selepas itu, kini saya merasa bahwa “ternyata” saya punya saudara.[]  

 

 


Editor. Hervin Saputra

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Diklaim Pertama di Dunia, Ini Roti dari Jangkrik yang Dikeringkan

Jumat, 24 November 2017 16:20 WIB

Frazer Bakeries baru saja mengenalkan roti berbahan serangga pertama di dunia yang dijual ke konsumen di toko, Kamis (23/11)


Harga Ikan Laut Melambung Tinggi Selama Cuaca Buruk

Jumat, 24 November 2017 16:16 WIB

Harga ikan laut di pasar tradisional Kota Kendari, Sulawesi Tenggara mengalami kenaikan yang disebabkan oleh cuaca buruk.


Idrus Marham Sosialisasikan Plt Ketua Umum

Jumat, 24 November 2017 16:15 WIB

Idrus Marham berharap seluruh kader Partai Golkar tetap solid.


Bulog Bau Bau Telah Siapkan 3 Komoditas Jelang Natal

Jumat, 24 November 2017 16:13 WIB

La Rahibun : ketiga komoditas yang telah disiapkan di gudang penyimpanan yakni beras, gula pasir, dan bawang putih.


Kasus Penghinaan Pahlawan, Polda NTB Koordinasi dengan Dewan Pers

Jumat, 24 November 2017 16:12 WIB

Pelapor dalam kasus dugaan penghinaan ini mengatasnamakan Tim Pembela Pahlawan Nasional Maulana Syeikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid.


Kejurnas 2017: Ajang Evaluasi Atlet Pelatnas

Jumat, 24 November 2017 16:12 WIB

Kejurnas tahun ini untuk menjadikan laga evaluasi bagi para atlet pelatnas.


Game Lawas Ini Bisa Kembali Anda Nikmati Tahun Depan

Jumat, 24 November 2017 16:10 WIB

My Tamagotchi Life tidak akan tersedia di iOS dan Android hingga tahun depan.



Misteri Inisial SN di Balik Nama Saksi Kasus Penyerangan Novel Baswedan

Jumat, 24 November 2017 16:06 WIB

Jubir KPK meluruska, SN bukan Setya Novanto.


Kereta di India Salah Tujuan sampai 160 Kilometer

Jumat, 24 November 2017 16:05 WIB

Rombongan 1.500 petani akan kembali ke Maharashtra, negara bagian di barat India seusai mengikuti demonstrasi di Delhi.


Penyerapan APBD Kalteng Masih Rendah

Jumat, 24 November 2017 16:03 WIB

Penyerapan APBD Kalimantan Tengah baik belanja langsung maupun tidak langsung belum ada yang mencapai 75 persen.


Indonesia vs Guyana, Momen Nostalgia Para Legenda

Jumat, 24 November 2017 16:03 WIB

PSSI juga telah mengundang sebanyak 36 legenda untuk menyaksikan pertandingan yang rencananya akan berlangsung di Stadion Patriot, Bekasi, S


Golkar Polisikan Ahmad Dolly Kurnia

Jumat, 24 November 2017 16:02 WIB

Ahmad Dolly Kurnia dinilai telah melakukan pencemaran nama baik.


Lazada Lirik Produk Kreatif Mahasiswa

Jumat, 24 November 2017 16:01 WIB

Lazada melirik sekaligus mengajak kalangan mahasiswa untuk menjadi seller produktif kreatif untuk membantu perekonomian ke depan.


Isu Krusial RUU KUHP Ini Disorot Ulama NU

Jumat, 24 November 2017 16:00 WIB

ada empat isu krusial yang menjadi perhatian khusus peserta bahtsul masa'il di dalam RUU KUHP.