/ Serba Serbi / Berita
Catatan dari Kuala Lumpur (Bagian 2)

Pahit-Manis Malaysia dalam Rasa Melayu, India, dan China

akurat logo
Hervin Saputra
Selasa, 05 September 2017 14:52 WIB
Share
 
Pahit-Manis Malaysia dalam Rasa Melayu, India, dan China
Seorang bocah India-Malaysia dalam rangkulan ibunya di sela perayaan Viyanagar Chathurthi di Kuil Korttu Malai Pillayar, Kuala Lumpur, Jumat (25/8). (Foto: AKURAT.CO/Sopian).

AKURAT.CO, Di Malaysia, motor tak banyak. Nyaris semua orang punya mobil. Pandangan masyarakat Malaysia tentang kelas ekonomi bisa dilihat dari cara mereka melihat mobil.

Salah seorang sahabat Malaysia, Shahkir, menyebut pemerintah Malaysia memproteksi industri mobil mereka dengan membatasi peredaran mobil impor dan menyebarluaskan mobil lokal. Maka di Kuala Lumpur, mobil impor tak seumum seperti di jalanan Indonesia. Sebagian besar mereka menggunakan mobil lokal, beberapa merknya adalah Proton dan Perodua.

Shahkir menyebut hanya orang kaya yang menggunakan mobil Eropa di Kuala Lumpur. Masyarakat kebanyakan menggunakan mobil lokal meski mereka mengeluhkan kualitasnya. Dan sepertinya, hampir semua orang di Malaysia punya mobil. 

Ini agaknya menyebabkan salah satu transportasi publik yang paling sering kami gunakan, selain kereta LRT (Line Rapid Transportation) tanpa pengemudinya yang nyaman, adalah taksi online Grab. Di atas Grab, kami bertemu dengan orang keturunan India, China, dan tentu saja Melayu.

Suatu ketika, dalam perjalanan dari Hotel Hilton, Petaling Jaya, selepas konferensi pers menjelang laga semifinal cabang sepakbola putra SEA Games antara Malaysia dan Indonesia, saya mendapat seorang pengemudi Grab keturunan India.

Usia Si Pengemudi kira-kira pertengahan 30-an. Cara berpakaiannya sporty dengan jaket training. Orang ini tipe talky. Ia suka sepakbola, mengaku suporter Arsenal, dan berpendapat bahwa Tim Nasional Malaysia terbaik adalah tim pada tahun 1997-1998.

Lalu ia berbicara bahwa ia adalah generasi keempat sejak nenek moyangnya datang dari India ke Malaysia dibawa Inggris pada abad ke-19. Ia juga bercerita bahwa China juga datang ke Malaysia dalam gelombang kolonialisme Inggris di Asia Tenggara. Juga perjanjian Inggris dan Kerajaan Malaysia dengan mengizinkan masuk orang Indonesia ke negeri mereka.

Salah satu mobil lokal Malaysia bermerk Proton dalam kemacetan menjelang laga semifinal SEA Games 2017 antara Indonesia dan Malaysia di Stadion Shah Alam, Selangor, Sabtu (26/8). (Foto: Akurat.co/Hervin Saputra).

Menurut Si Pengemudi, Inggris membawa warga India ke Malaysia untuk membangun infrastruktur negara itu. Tenaga India dibutuhkan karena India terkenal ahli dalam seni arsitektur.

Lalu dia berbicara tentang pendidikan. Dia mengatakan pendidikan di Malaysia berada dalam radius 200 terbaik di dunia.

Lalu tentang masalah rasial, dengan menyebut di Malaysia selain warga Melayu tak bisa menjadi Perdana Menteri. “They don’t open mind,” ucapnya dalam Bahasa Inggris.

Pada hari yang lain, sepulang dari Mitec menuju hotel, kami mendapat pengemudi Grab perempuan keturunan China. Usianya kira-kira menjelang 40 tahunan.

Dengan kondisi perut yang setengah lapar pada waktu menjelang maghrib itu, cara Si Pengemudi mengemudikan mobil membuat asam lambung menjadi “naik.” Ia meminta saya memasang sabuk pengaman: “your belt, please.”

Lalu, ketika ia mulai merasa berputar-putar mencari jalan pintas untuk menghindari macet dengan mengikuti peta online, ia mulai berbicara dalam Bahasa yang menurut saya adalah Bahasa China.

You speak Chinesse?” tanya saya.

“Ya, tapi bise Melayu, English… little lah..” dalam Bahasa Melayu berdialek China.

Sepanjang perjalanan ia menggerutu, sesekali dalam Bahasa China, sesekali dalam Melayu. Dan ketika ia hendak memintas jalan namun mobil yang berada di jalur seperti enggan memberinya ruang, dia mencak-mencak menyalahkan mobil tersebut.

Tu olang bodo aaa… kalo kene sape mau ganti aaa… sekalang ni nyang penting  uang… bodo la…,” katanya.

Ketika sampai di lampu merah, mobil yang dikutuk oleh Si Pengemudi mengambil posisi di samping kirinya. Pengemudinya mengendarai mobil bak SUV berwarna merah-oranye dan membuka kaca mobilnya sehingga kami bisa melihat wajahnya.

Mendengar Si Pengemudi berceloteh, saya bertanya apakah mobil di sebelah adalah sasaran amukannya. Dia mengiyakannya. Dan yang saya lihat di sebelah adalah seorang perempuan bule dengan wajah pura-pura tak tahu.

Saat saya terus melihat bule tersebut, Si Pengemudi berkata seakan melarang: “ kamu jangan liat die lah.. nanti die tahu ai lagi cakap die olang..”

Salah satu restoran masakan China di kawasan kuliner jalanan di Jalan Alor, Kuala Lumpur. (Foto: Akurat.co/Sopian).

Telepon genggamnya terletak di dekat kemudi, sehingga dia bisa mengemudi sambil melihat peta petunjuk. Sekaligus memudahkannya berkomunikasi dengan pelanggan.  Dan oleh sebab itu, kami bisa melihat bahwa semua abjad yang tertera di layar telepon genggamnya tampak seperti aksara China.

Juga sebuah kamera perekam yang terus aktif di dekat kaca spionnya. Dia mengatakan, kamera itu digunakannya untuk merekam perjalanan kerjanya sebagai bukti jika ada pelanggaran lalu lintas.

Pada hari yang lain, dari hotel menuju Mitec, saya mendapatkan seorang pengemudi Melayu. Pemuda yang usianya kira-kira pertengahan 20 tahunan.

Saat itu, saya mengambil titik jemput di Masjid Jamek. Dan ketika sampai di Masjid Jamek, dia mengirim pesan yang berbunyi seperti ini, “boleh cik call saya..”

Saya menjawab dengan Bahasa Inggris, “I’m at the front of Masjid Jamek Station.”

Dia menjawab dengan Bahasa Inggris, “I’m at the left side of the station.”

Kalimat pertama yang dikatakannya ketika saya duduk di bangku sebelahnya adalah, “speaking ye?”

Saya jawab, “Bahasa Melayu bisa, Inggris bisa sikit-sikit,” dengan berusaha menekankan aksen Malaysia pada ucapan “sikit-sikit.”

“Memang kamu tak ingat muke saye?”

Dan saya menjawab dengan tetap berusaha memberi aksen Malaysia, “ah tak tau lah…”

Tak ada percakapan sepanjang perjalanan sekitar lima belas menit itu kecuali pada saat saya membayar ongkos. Kalau tidak salah, saya membayar 19 Ringgit Malaysia dengan uang kertas 20 Ringgit Malaysia, dan dia mengembalikan satu Ringgit Malaysia.

Pada kesempatan lain, di Stadion Shah Alam, Selangor,  dalam laga penyisihan cabang sepakbola antara Kamboja dan Indonesia, mantan pemain Persebaya Surabaya yang kini membela Selangor FA, Andik Vermansyah, mengaku awalnya sempat ragu meneken kontrak dua tahun di klub Liga Super Malaysia itu karena pengetahuannya tentang konflik antara Indonesia dan Malaysia.

Namun, ia bertahan juga di Negeri Jiran – julukan Malaysia – selama empat musim. Dan di sana, orang Malaysia tak segan memuji Andik. “In Malaysia he is fenomenal, he small but he beat the big people. His dribbling, his passion…” kata seorang sukarelawan Malaysia di Stadion Shah Alam.

Pemain sepakbola Indonesia yang kini membela Selangor FA, Andik Vermansyah, saat berada di Stadion Shah Alam, Selangor, menjelang laga Indonesia versus Kamboja, Rabu (23/8) (Foto: Akurat.co/Hervin Saputra).

Dan inilah yang dikatakan Andik tentang warga Malaysia: “Bukannya saya membaik(-baik)kan orang Malaysia ya, saya awalnya ragu mau dikontrak dua tahun, makanya saya cuma ambil satu tahun. Tapi mereka baik dan menyambut saya, makanya saya sudah empat tahun (di Selangor FA).”

Di Mitec, pada suatu pagi di final cabang senam artistik, saya duduk di tribun deret bangku ketiga. Saya duduk dengan melipat kaki dan merentangkan tangan di bahu kursi yang ada di kiri-kanan saya.

Deret itu kosong sampai datang seorang juru kamera Melayu berusia 20 tahunan akhir yang bekerja untuk salah satu media utama di SEA Games. Saat dia berjalan menenteng kamera dan tripod-nya menuju sudut deret yang berbatasan pagar, dia melintasi saya sambil bergumam dengan mengatakan, “sorry, you can sit there.”

Kalimat itu diucapkan tanpa menatap mata saya sekaligus memonyongkan mulutnya sebagai tanda untuk mengatakan dia meminta saya pindah ke kursi sebelah. Dan usai mengatakannya dia mengalihkan wajahnya ke arah panggung.

Yang saya lakukan adalah tetap duduk tanpa mengubah posisi.

Lalu dia berkata dalam nada pertanyaan, “you come from Indonesia?”

Haruskah pertanyaan ini dijawab? Dan saya menjawabnya: “what do you think?”

You look like Indonesia,” katanya.

Whatever,” ucap saya.

What?” dia bertanya.

Saya ulangi lagi: “whatever.”

Akhirnya saya pindah dari tempat itu karena seorang juru kamera lain datang ke depan saya. Dan ketika saya pindah, seorang wanita berkerudung yang duduk di ujung luar deret itu, berusia 20 tahunan awal, dan mengenakan seragam berlogo stasiun televisi yang sama dengan juru kamera yang bercakap singkat dengan saya sebelumnya, berkata kepada saya: “sorry.”[]


Editor. Hervin Saputra

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Diklaim Pertama di Dunia, Ini Roti dari Jangkrik yang Dikeringkan

Jumat, 24 November 2017 16:20 WIB

Frazer Bakeries baru saja mengenalkan roti berbahan serangga pertama di dunia yang dijual ke konsumen di toko, Kamis (23/11)


Harga Ikan Laut Melambung Tinggi Selama Cuaca Buruk

Jumat, 24 November 2017 16:16 WIB

Harga ikan laut di pasar tradisional Kota Kendari, Sulawesi Tenggara mengalami kenaikan yang disebabkan oleh cuaca buruk.


Idrus Marham Sosialisasikan Plt Ketua Umum

Jumat, 24 November 2017 16:15 WIB

Idrus Marham berharap seluruh kader Partai Golkar tetap solid.


Bulog Bau Bau Telah Siapkan 3 Komoditas Jelang Natal

Jumat, 24 November 2017 16:13 WIB

La Rahibun : ketiga komoditas yang telah disiapkan di gudang penyimpanan yakni beras, gula pasir, dan bawang putih.


Kasus Penghinaan Pahlawan, Polda NTB Koordinasi dengan Dewan Pers

Jumat, 24 November 2017 16:12 WIB

Pelapor dalam kasus dugaan penghinaan ini mengatasnamakan Tim Pembela Pahlawan Nasional Maulana Syeikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid.


Kejurnas 2017: Ajang Evaluasi Atlet Pelatnas

Jumat, 24 November 2017 16:12 WIB

Kejurnas tahun ini untuk menjadikan laga evaluasi bagi para atlet pelatnas.


Game Lawas Ini Bisa Kembali Anda Nikmati Tahun Depan

Jumat, 24 November 2017 16:10 WIB

My Tamagotchi Life tidak akan tersedia di iOS dan Android hingga tahun depan.



Misteri Inisial SN di Balik Nama Saksi Kasus Penyerangan Novel Baswedan

Jumat, 24 November 2017 16:06 WIB

Jubir KPK meluruska, SN bukan Setya Novanto.


Kereta di India Salah Tujuan sampai 160 Kilometer

Jumat, 24 November 2017 16:05 WIB

Rombongan 1.500 petani akan kembali ke Maharashtra, negara bagian di barat India seusai mengikuti demonstrasi di Delhi.


Penyerapan APBD Kalteng Masih Rendah

Jumat, 24 November 2017 16:03 WIB

Penyerapan APBD Kalimantan Tengah baik belanja langsung maupun tidak langsung belum ada yang mencapai 75 persen.


Indonesia vs Guyana, Momen Nostalgia Para Legenda

Jumat, 24 November 2017 16:03 WIB

PSSI juga telah mengundang sebanyak 36 legenda untuk menyaksikan pertandingan yang rencananya akan berlangsung di Stadion Patriot, Bekasi, S


Golkar Polisikan Ahmad Dolly Kurnia

Jumat, 24 November 2017 16:02 WIB

Ahmad Dolly Kurnia dinilai telah melakukan pencemaran nama baik.


Lazada Lirik Produk Kreatif Mahasiswa

Jumat, 24 November 2017 16:01 WIB

Lazada melirik sekaligus mengajak kalangan mahasiswa untuk menjadi seller produktif kreatif untuk membantu perekonomian ke depan.


Isu Krusial RUU KUHP Ini Disorot Ulama NU

Jumat, 24 November 2017 16:00 WIB

ada empat isu krusial yang menjadi perhatian khusus peserta bahtsul masa'il di dalam RUU KUHP.